matraciceni.com

Cerita Nur Gandeng Petani Lokal Hingga Bikin Program Menabung Kopi

Solusi UKM
Foto: Dok. Istimewa

Jakarta -

Sejak kecil, Nur Kholifah (32) sudah diajak kakek neneknya ke kebun kopi. Dari situ, kecintaan Nur pada kopi bertumbuh, hingga ia punya mimpi ingin membawa produk kopi asal kampung halamannya, Gulacit, Lumajang, Jawa Timur, bisa dikenal dan membuat petani lebih sejahtera.

Nur cerita, keputusan membangun usaha Kopi Gucialit tak dilakukan dengan tiba-tiba. Meski sejak kecil sudah karib dengan perkebunan kopi, Nur tetap melakukan pengamatan, riset, hingga melihat potensi besar yang dimiliki kopi Gucialit.

Selama dua tahun ia berkeliling di Kecamatan Gucialit, berinteraksi dengan petani, dan menyusun apa yang bisa dilakukan dengan kenyataan yang ia jumpai di lapangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang aku lihat, potensi kopi banyak banget, tapi belum ada yang mengolah kopi dan dijual produknya. Dari situ, aku melihat ada peluang, dan akhirnya coba mengolah biji kopi dari petani lokal," kisah Nur, ditulis Rabu (3/7/2024).

Ia pun mulai merintis dengan peralatan seadanya, berbekal alat grinding manual. Untuk me-roasting kopi pun Nur dan suaminya harus ke wilayah kota karena tidak memiliki mesin roasting sendiri.

ADVERTISEMENT

Tak patah semangat, Nur menunjukkan keseriusannya membangun usaha ini. Orang tuanya pun akhirnya turut berkontribusi dengan memberikan sebuah mesin roasting kopi dengan kapasitas 1 kilogram. Dengan adanya alat ini, kapasitas produksi pun bertambah, meski kala itu hanya mampu membeli kopi petani sebanyak maksimal 50 kilogram.

Lalu di 2019, Nur dan suaminya menggagas program Menabung Kopi. Program ini berawal dari fenomena banyaknya petani kopi di Gucialit yang tak langsung menjual produksi kopinya. Sebagian besar memilih menyimpan kopinya sehingga berisiko terhadap kualitas produk.

"Petani kopi di Gucialit itu punya kebiasaan menyimpan kopinya. Kalau enggak butuh mendesak, enggak akan dijual itu kopinya. Kebiasaan ini punya kelemahan, terkait penyimpanan kopi. Kalau tempat penyimpanan kurang bagus, kemasan waktu menyimpan tidak kedap udara, ada risiko kopi rusak. Akibatnya, harga murah," ujar Nur.

Kala itu, ada petani yang menawarkan 100 kilogram kopi hasil panennya. Namun, modal dan kapasitas produksi Kopi Gucialit belum mampu membeli kopi sebanyak itu. Kemudian, Nur menawarkan agar kopinya dititipkan, dan jika sudah terjual, uangnya akan diberikan kepada si petani. Inilah awal mula Menabung Kopi. Untuk memberikan keuntungan lebih, Nur membuat kesepakatan harga dengan petani dengan angka di atas harga pasar.

Menurut dia, hal ini untuk memberikan penghargaan lebih terhadap kopi dan jerih payah para petani.

"Seiring perjalanan, petani mitra merasakan manfaat dari program ini. Ada yang menitipkan kopi untuk biaya kuliah anaknya. Saat itu, dia menabung ketika anaknya kelas 3 SMA, dan terus ikut program ini sampai sekarang anaknya sudah lulus kuliah," cerita Nur.

Dari pengalaman satu petani ini, akhirnya petani mitra yang mengikuti program Menabung Kopi terus bertambah. Bahkan, para petani ini memanfaatkan hasil Menabung Kopi untuk berbagai kebutuhan. Ada petani perempuan yang ikut Menabung Kopi untuk biaya persalinan. Nur juga memberikan pendampingan terhadap petani mitra terkait standar panen, pasca panen, agar kopi yang dihasilkan lebih baik.

Kopi Gucialit pun semakin dikenal, hingga pada 2023, ada 12 petani mitra di Kecamatan Gucialit yang ikut program Menabung Kopi.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat