matraciceni.com

Banting Setir Bisnis Fesyen, Pegawai Kantoran Ini Sukses Jualan Hingga Ekspor

Solusi UKM
Foto: Dok. Istimewa

Jakarta -

Setiap orang mungkin punya cerita gagal dan mengalami fase terendah dalam hidupnya. Nasta Rofika (33), pemilik merek Ulur Wiji, punya cerita itu. Nasta berbagi cerita tentang bagaimana ia bangkit dari perasaan tak percaya diri, minder, dan merasa insecure dengan apa yang dilakukannya.

Nasta bercerita memulai bisnis fesyen pada 2015. Kala itu, ia masih bekerja sebagai pegawai kantoran. Sambil bekerja, Nasta mengikuti sekolah fesyen pada akhir pekan. Impiannya, kelak bisa menjadi seorang perempuan wirausaha, dan tak selamanya menjadi pegawai kantoran.

"Dari 2015 sampai 2019 itu saya masih mengerjakan fast fashion, membuat apa saja asal jadi duit. Gaun, jilbab. Brand pertama saya namanya Nasta, menggunakan nama sendiri," ujar Nasta, ditulis Selasa (2/7/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, produk-produk Nasta tak bisa bersaing, karena cepatnya perubahan tren dan banyaknya produk dengan konsep yang sama. Akhirnya, pada 2019, ia memutuskan menutup brand Nasta.

Sebagai seorang sarjana teknik lingkungan, Nasta punya impian melahirkan produk fesyen yang ramah lingkungan. Ia sempat mencoba ecoprint, tetapi ternyata sudah banyak pemainnya. Hingga akhirnya ia ingin melakukan inovasi produk eco fesyen dengan menggunakan batik.

ADVERTISEMENT

"Batik akan menyampaikan apa yang jadi aspirasiku, dan aku berikan added value supaya lebih eco, dengan memilih warna alam. Aku riset lagi dan belajar soal warna alam. Waktu itu, belum banyak yang mengeluarkan produk seperti ini," kata Nasta.

Selama setahun, ia memikirkan konsep baru produk yang akan dikeluarkannya. Masa pandemi, yang menjadi masa-masa sulit bagi pelaku UMKM, justru menjadi awal kebangkitan Nasta dan karyanya. Awal Juli 2020, Nasta meluncurkan produk Ulur Wiji. Tak ada satu pun produk yang laku.

"Di awal, saya merasa produk saya bisa menyelamatkan dunia, ternyata enggak ada yang beli. Sedih banget. Ha-ha-ha. Saya idealis, kainnya harus eco banget, benar-benar memilih produsen yang bertanggung jawab pada lingkungan," kata dia.

Tak patah semangat, Nasta kembali berpikir perbaikan apa yang harus dilakukannya. "Titik baliknya, seorang teman nanya, kamu itu sebenarnya ngapain, Nasta?" ujar Nasta.

Pertanyaan ini menggelitik dan menyadarkan Nasta bahwa konsep yang ingin diperkenalkannya selama ini belum sampai pada calon konsumen. Pada Agustus 2020, Nasta mengubah strategi marketingnya dengan melakukan pendekatan kepada influencer yang selama ini dikenal sebagai pencinta lingkungan. Cara ini efektif, karena akhirnya produk Ulur Wiji diminati dan mulai banyak konsumen yang membeli produknya.

Pada 2021, Nasta yang selama ini membangun bisnisnya di Penajam Passer Utara, memutuskan kembali ke kampung halamannya di Mojokerto, Jawa Timur. Sang suami pun resign dari pekerjaannya dan membangun usaha bersama Nasta. Mereka memutuskan kembali ke Jawa Timur untuk memenuhi permintaan sang ibu.

"Almarhumah Ibu saya waktu itu minta saya pulang. Ibu saya bilang, 'Ibu bantu doa supaya usahamu berkembang di sini'. Ya sudah, saya pulang, karena saat itu juga banyak keluarga, kerabat yang jobless efek pandemi. Karyawan pertama saya adalah sepupu saya sudah jobless dua tahun. Kemudian, saya tarik satu per satu tetangga dan orang-orang sekitar kami," kisah Nasta.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat