matraciceni.com

Kebanjiran Impor, Industri Plastik-Tekstil RI Babak Belur!

Industri
Foto: Ignacio Geordy Oswaldo

Jakarta -

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan serbuan bahan dan produk petrokimia membuat Industri dalam negeri babak belur, khususnya terkait produk turunan petrokimia seperti plastik dan tekstil.

Fajar menjelaskan kondisi ini dapat dilihat dari nilai tambah manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) RI yang terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Bahkan per 2022 kemarin, nilai tambah manufaktur terhadap PDB hanya berada di level 18,3% pada 2022 lalu, turun jauh dari 2002 yang berada di level 32%.

"Kita lihat sekarang nilai tambah manufaktur terhadap PDB kita terus turun, sekarang sudah mulai di level 18,3%. Mulai turun banyak, ini juga akan terus memperlemah daya saing dalam negeri terhadap demand," kata Fajar dalam diskusi media di Kantor Kementerian Perindustrian, Senin (8/7/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat, (produksi) barang jadi plastik (dalam negeri) juga sudah mulai agak turun sedikit, tapi impor bahan baku plastiknya naik cukup signifikan. Sehingga di sini ada perlu strategi-strategi lain bagaimana mencukupi demand dalam negeri dengan suplai lokal," jelasnya lagi.

Lebih jauh, Fajar mengatakan kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) jauh lebih terpuruk daripada industri petrokimia lainnya. Sebab industri yang satu ini sudah kebanjiran produk impor, dari bahan baku tekstil (polyester) sampai ke pakaian jadi.

ADVERTISEMENT

"Tekstil sendiri juga terus polyester kita mengalami tekanan-tekanan juga dari produk-produk impor. Belum lagi di industri TPT-nya, dari sisi bahan baku saja mereka sudah kena dari barang-barang impor," jelasnya.

Menurutnya banjir impor petrokimia ini paling berdampak pada industri Aromatik dan turunannya. Sebab pada dasarnya industri yang satu ini merupakan salah satu industri turunan tekstil. Fajar mengatakan kalau industri hulunya saja sudah babak belur, apalagi industri turunnya.

"Aromatik dan turunnya ini kendalanya juga lumayan banyak, ini merupakan industri padat karya yang di bawahnya tekstil sehingga paling banyak kena dampaknya sekarang-sekarang ini karena banjirnya barang-barang jadi dari impor sehingga ke hulunya ikut berimbas. Bahkan yang di bawah sudah mulai tutup entah itu di-PHK," tuturnya.

Karena itu ia meminta kepada pemerintah untuk benar-benar memperhatikan jumlah impor yang masuk ke RI. Sebab kalau tidak industri produksi plastik dan TPT khususnya akan semakin berdarah-darah.

"Pemerintah harus memutuskan apakah akan tetap mendukung industri tekstil yang saat ini mempekerjakan 3.5 juta orang. Sebab industri tekstil merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja paling besar di Indonesia," tambahnya.

(fdl/fdl)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat