matraciceni.com

Mobil Listriknya Dijegal Uni Eropa & AS, China Serbu Negara Berkembang

Penyerahan 1.000 Unit Pertama BYD ke Konsumen
Dealer BYD di Indonesia.Foto: BYD

Jakarta -

Uni Eropa telah menaikkan tarif bea masuk mobil listrik asal China. Begitu juga dengan Amerika Serikat yang sudah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa

Melansir dari CNA, Sabtu (6/7/2024), tarif bea masuk yang tinggi ini dikenakan Eropa dan AS untuk menjaga daya saing produsen kendaraan listrik lokal mereka dari gerusan produk asal China yang sangat murah.

Pengamat sekaligus Wakil Lektor Eksekutif di Universitas Duke Kunshan, China, John Quelch mengatakan Uni Eropa dan Amerika merupakan pasar penting industri mobil listrik China. Namun kedua kawasan ini bukanlah satu-satunya pasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada banyak peluang bagi pasar ekspor dan manufaktur kendaraan listrik Tiongkok untuk berkembang di luar negeri," kata Quelch.

Quelch juga menekankan bagaimana China juga bisa berkolaborasi dengan negara-negara yang memiliki industri manufaktur otomotif lainnya seperti Meksiko. Sehingga masih ada banyak negara pilihan untuk menjual kendaraan listrik asal Negeri Tirai Bambu itu.

ADVERTISEMENT

Selain menjual produk mereka ke pasar negara berkembang, Li Fang selaku Direktur World Resources Institute China menyebut produsen mobil listrik asal negaranya saat ini juga sudah melakukan produksi di kawasan industri lokal negara lain untuk menghindari hambatan yang tidak perlu.

Misalnya saja ada produsen mobil listrik BYD yang sudah membuka pabrik pertamanya di Thailand. Itu merupakan pabrik pertama BYD di Asia Tenggara.

Fang mengatakan, para produsen memilih untuk membangun basis manufaktur di negara-negara berkembang ini dilakukan untuk membantu transformasi kendaraan listrik listrik negara itu.

"Hal ini dapat dilihat sebagai bagian dari kerja sama Selatan-Selatan dan sebagai bagian dari respons terhadap peraturan perdagangan global yang baru," tambahnya, mengacu pada kerja sama antar negara-negara di area selatan bumi.

Kawasan daerah selatan yang dimaksud secara luas mencakup negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, mengacu pada berbagai negara yang digambarkan sebagai negara berkembang, kurang berkembang, atau terbelakang.

Pergeseran ini juga terjadi di tengah meningkatnya keinginan Presiden China Xi Jinping untuk meningkatkan kerja sama dengan negara dari kelompok tersebut, yang mana China menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok tersebut.

(hns/hns)

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat